Feeds:
Pos
Komentar

ULASAN
SEBUAH BAB

TANTANGAN DAN MASA DEPAN ILMU

Tugas Mandiri
Mata Kuliah Filsafat Ilmu
(Dosen Pengampu : Prof. Dr. Makrina. T, M.Pd)

O l e h :

Taufik Hidayat (NIM. 0805136149)
Program Studi : Manajemen Pendidikan

PROGRAM PASCASARJANA KEPENDIDIKAN
UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA
2008
ULASAN KRITIS
SEBUAH BAB

1. Bibilografi :
a. Judul Buku : FILSAFAT ILMU
“Tantangan dan Masa Depan Ilmu”
Prof. Dr. Amsal Bakhtiar, M.A. – Edisi Revisi
Rajawali Pers – Jakarta
b. Tentang Pengarang : Amsal Bakhtiar lahir di Padang Panjang, Sumatra Barat, 19 Desember 1960. Bertugas di Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sharif Hidayatullah Jakarta sebagai dosen tetap. Juga mengajar di beberapa perguruan tinggi yaitu Universitas Islam Empat Lima (UNISMA), al-Akidah dan Perguruan Tinggi Thawalib Jakarta. Riwayat pendidikan mantan aktivis mahasiswa ini dimulai dari Sekolah Dasar (1972); melanjutkan ke Thawalib Padang Panjang (1975); kemudian melanjutkan ke Pesantren Gontor Ponorogo Jawa Timar. Melanjutkan ke Fakultas Ushuluddin IAIN Sharif Hidayatullah Jakarta (1987); Magister Agama (1993), dan terakhir meraih gelar Doktor tahun 1998, sedangkan pangkat Guru Besar diría pada tahun 2005. Saat ini menjabat sebagai Pembantu Rektor Bidang Administrasi Umum UIN Sharif Hidayatullah Jakarta. Sebelumnya menjabat Dekan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sharif Hidayatullah Jakarta untuk periode 2002-2006. Sebelum menjadi Dekan, ia menjabat Asisten Direktur Pascasarjana UIN Sharif Hidayatullah Jakarta (2000-2002). Karya-karya yang sudah diterbtkan adalah : Metode Tauhid : Upaya Menjelaskan Alam Metafísica (Editor) Jakarta, Pustaka Beta, 1989; “Epistemologi Aliran Mu’tazilah dan Ays’ariyah”, dalam Ilmu Kalam, Jakarta, Antara, 1995; Filsafat Ilmu, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2004; Gerakan Tarekat dan Tasawuf, ed. Bandung, Pustaka Husna, 2004; “Tarekat Qadariyah” dalam Tarekat-tarekat Mu’tabarah, Jakarta: Prenada, 2004; Pergulatan Pemikiran dalam Filsafat Islam: Perbandingan antara al-Gazali dan Ibn Rusyd; Jakarta: Pustaka Husna, 2005; “Meneladani Pengorbanan Nabi Ibrahim dalam Rangka Mewujudkan Masyarakat Madani”, dalam Masyarakat Madani, Bina Cipta Insani, 2000.

2. Tujuan Penulis/Pengarang :
Penulisan buku Filsafat Ilmu merupakan bagian dari penelitian buku daras yang dilakukan di Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Jakarta. Bahan penulisan buku ini adalah persiapan dan hasil diskusi di kelas ketika ia (Amsal Bakhtiar) mengajar mata kuliah filsafat ilmu. Diharapkan dengan penerbitan buku daras ini dapat mendorong dan membantu para civitas akademika dalam mencari informasi yang relevan dan aktual dalam proses perkuliahan, juga untuk menyelami dan memperluas wawasan tentang hakikat dan makna ilmu secara filosofis.

3. Fakta Unik yang Menarik :
Dengan kemajuan ilmu dan teknologi, umat manusia saat ini sangat tergantung dan dimanjakan oleh teknologi, ketergantungan yang terus menerus menjadikan manusia terlena dari eksistensi dirinya yang bebas dan kreatif, untuk kemudian tidak sadar bahwa dirinya terpenjara oleh teknologi itu sendiri, sehingga manusia tidak kreatif dan reflektif lagi. Jika sebelum penemuan teknologi maju, manusia terpenjara dan ditentukan oleh alam dan Tuhan, maka setelah kemajuan teknologi manusia terpenjara oleh teknologi itu. Disamping itu kemajuan teknologi bisa saja dimanfaatkan dan dimanipulasi oleh kaum penguasa untuk legalitas kepentingan kekuasaannya dengan menciptakan iklim dimana manusia didoktrin dan direkayasa sedemikian rupa sehingga manusia tak ubahnya seperti robot yang dijalankan oleh tuannya.

4. Pertanyaan yang Muncul :
Pertanyaan yang timbul setelah menyimak dan membaca Bab 6 : “Tantangan dan Masa Depan Ilmu” adalah : “Akankah manusia melupakan kodratnya sebagai mahluk Tuhan yang diberikan akal, budi pekerti dan keimanan menjadi budak dari ilmu dan teknologi yang berkembang demikian pesat ¿”

5. Konsep Utama :
Konsep utama dari Bab ini adalah : Ilmu dan teknologi tidak harus dilihat dari aspek yang sempit, tetapi harus dilihat dari tujuan jangka panjang dan untuk kepentingan yang lebih abadi, dan dalam konteks ini agama, ilmu dan teknologi haruslah ber-sinergi demi terwujudnya keseimbangan peradaban manusia.

MAKALAH

ONTOLOGI MANAJEMEN PENDIDIKAN

Tugas Individu
Mata Kuliah Filsafat Ilmu
(Dosen Pengampu : Prof. Dr. Hartutiningsih, M.Si)

O l e h :

Taufik Hidayat (NIM. 0805136149)
Program Studi : Manajemen Pendidikan

PROGRAM PASCA SARJANA KEPENDIDIKAN
UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA
2008
I. Pendahuluan

Berbicara soal ontologi manajemen pendidikan, maka harus dipahami terlebih dahulu secara tersendiri apa yang dimaksud dengan ontologi, manajemen, pendidikan dan manajemen pendidikan. Menurut Jujun S. Suriasumantri, semua pengetahuan apakah itu Ilmu atau seni atau pengetahuan apa saja pada dasarnya mempunyai tiga landasan yakni ontologis, epistemologis dan aksiologis. Yang berbeda adalah perwujudannya serta sejauh mana landasan-landasan dari ketiga aspek tersebut diperkembangkan dan dilaksanakan. Jadi untuk membedakan jenis pengetahuan satu dengan lainnya maka pertanyaan yang dapat diajukan adalah: apa yang dikaji oleh pengetahuan itu (ontologi), bagaimana caranya mendapatkan pengetahuan itu (epistemologi), serta untuk apa pengetahuan itu dipergunakan (aksiologi).
Sumantri, menyebutkan pertanyaan yang terkait dengan landasan ontologis meliputi; “ obyek apa yang ditelaah ilmu? , bagaimana ujud yang hakiki dari obyek tersebut ? , bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir, merasa dan mengindera) yang membuahkan pengetahuan?”.
Beralih kepada pengertian manajemen, penulis mengungkapkan salah satu definsi umum untuk memahami artinya. Menurut George R. Terry manajemen adalah proses perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), penggerakkan (actuating) dan pengawasan (controlling) yang dimaksudkan untuk mencapai tujuan tertentu yang telah ditetapkan dengan menggunakan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya.
Planning menurut Terry ialah menetapkan pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh kelompok untuk mencapai tujuan yang digariskan. Di dalam planning tercakup kemampuan untuk mengadakan visualisasi dan melihat ke depan guna merumuskan suatu pola dari himpunan tindakan untuk masa mendatang.
Sementara Organizing mencakup :
(a) membagi komponen-komponen kegiatan yang dibutuhkan untuk mencapai
tujuan ke dalam kelompok-kelompok,
(b) membagi tugas kepada seorang manajer untuk mengadakan pengelompokan
tersebut,
(c) menetapkan wewenang di antara kelompok atau unit-unit organisasi.
Organizing ini berhubungan erat dengan manusia, sehingga penugasannya ke dalam unit-unit organisasi dimasukkan sebagai unsur organizing. Actuating atau yang disebut juga “gerakan aksi” mencakup kegiatan yang dilakukan seorang manager untuk mengawali dan melanjutkan kegiatan yang ditetapkan oleh unsur perencanaan dan pengorganisasian agar tujuan-tujuan dapat tercapai. Actuating mencakup penetapan dan pemuasan kebutuhan manusiawi dari pegawai, memberi penghargaan, memimpin dan memberi kompensasi kepada mereka.
Controlling mencakup kelanjutan tugas untuk melihat apakah kegiatan-kegiatan dilakukan sesuai rencana. Pelaksanaan kegiatan dievaluasi dan penyimpangan-penyimpangan yang tidak diinginkan kemudian diperbaiki supaya tujuan-tujuan dapat tercapai dengan baik. Beralih ke definsi soal pendidikan. Nanang Fattah mengutip dari Dictionary of Education, menyebutkan pendidikan adalah;
(a) Proses seseorang mengembangkan kemampuan, sikap, dan tingkah laku lainnya di dalam masyarakat tempat mereka hidup dan
(b) Proses sosial yang terjadi pada orang yang dihadapkan pada lingkungan yang terpilih dan terkontrol, sehingga dapat memperoleh perkembangan kemampuan sosial dan kemampuan Individu yang optimal.
Sementara, Redja Mudyaharjo dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, setelah menelaah berbagai definisi pendidikan yang ada, menyampaikan rumusan definisi pendidikan sebagai berikut : Pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat, dan pemerintah melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latihan, yang berlangsung di sekolah dan di luar sekolah untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat memainkan peranan secara tepat dalam berbagai lingkungan hidup.
Dalam kaitannya dengan manajemen, Fattah menjelaskan pendidikan merupakan suatu sistem yang kompleks meliputi berbagai komponen yang saling berkaitan satu sama lain. Jika pendidikan ingin dilaksanakan secara terencana dan teratur, maka diperlukan usaha pengkajian pendidikan sebagai suatu sistem. Berkaitan dengan pemahaman pendidikan sebagai suatu sistem, Fattah memaparkan model sistem pendidikan secara makro pada hakikatnya berkait dengan metode yang erat berkaitan dengan usaha-usaha pemecahan masalah pendidikan yang kompleks. Hal itu dijalankan dengan memadukan berbagai unsur dengan menggunakan berbagai cara sehingga proses yang dilalui benar-benar dapat menunjang pencapaian tujuan pendidikan yang efektif dan efisien.
Berbicara soal pencapaian tujuan, konsep yang hampir sama juga dikemukakan Made Pidarta. Dalam uraiannya, Pidarta berpendat, manajemen pendidikan dapat diartikan sebagai aktivitas memadukan sumber-sumber pendidikan agar terpusat dalam usaha mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan sebelumnya. Pada tataran praktis, Hadi Satyagraha mengungkapkan, manajer pendidikan selaku penanggungjawab aktivitas manajemen, mempunyai tugas mengkoordinasikan sumber daya yang dipunyainya seperti guru, sarana, dan prasarana sekolah (perpustakaan, laboratorium, dsb) untuk mencapai sasaran dari lembaga pendidikan.

II. Pembahasan

Berdasarkan penjelasan tentang ontologi, manajemen, dan manajemen pendidikan sebagaimana telah diuraiakan di atas, maka penulis berpendapat “apa yang dikaji” atau obyek yang ditelaah ilmu manajemen pendidikan pada dasarnya meliputi aspek perencanaan (Planning), pengorganisasian (Organizing), penggerakkan (Actuating) dan pengawasan (Controlling) di suatu institusi pendidikan. Empat aspek manajemen yang dikenal dengan singkatan POAC tersebut penulis pahami sebagai unit kajian manajemen pendidikan.

1. Perencanaan Institusi Pendidikan
Secara umum, penulis memahami perencanaan pendidikan sebagai upaya mempersiapkan semua sumber daya yang ada (baik sumber daya manusia maupun sarana) agar dapat terlaksana proses belajar-mengajar yang baik dalam mencapai sasaran pendidikan seperti yang diharapkan lembaga atau institusi pendidikan. Dalam konteks ini, perencanaan manajemen penulis pahami sebagai perencanaan yang bersifat kelembagaan, artinya meliputi rencana administratif dan akademik atau pembelajaran.
Perencanaan secara adminstratif ini untuk mengalokasikan sumber daya manusia (tenaga pendidik) yang ada dalam melaksanakan tugas kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latihan kepada peserta didik. Selain alokasi tenaga pendidik, perencanaan juga mengalokasikan sarana dan prasarana berupa alat bantu belajar, fasilitas atau perangkat teknologi yang dimaksudkan untuk menunjang kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latihan kepada peserta didik .
Di dalam pengalokasian sarana-sarana ini juga termasuk rencana anggaran (budgeting) bagi keberlangsungan institusi pendidikan. Perencanaan juga ditujukan sebagai panduan pelaksanaan kerja institusi pendidikan untuk kurun waktu tertentu yang akan datang. Di dalam panduan itulah dimuat tujuan dan sasaran yang akan dicapai melalui suatu program pengelolaan institusi pendidikan. Suatu program manajemen -yang dalam pandangan penulis-merupakan rencana dapat diandalkan (accountable) dan terukur (measurable) untuk memanfaatkan sumber-sumber yang ada (existing resources).

2. Pengorganisasian dalam Institusi Pendidikan
Pengorganisasian di dalam lembaga pendidikan ditujukan untuk menghimpun semua potensi komponen pendidikan secara sinergis untuk menyelenggarakan pendidikan dengan baik. Penghimpunan potensi secara sinergis itu direalisasikan dengan membagi komponen-komponen kegiatan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan ke dalam kelompok-kelompok. Dalam konteks manajemen pendidikan, penulis memaknai, pengorganisasian sebagai pembagian kerja ke dalam struktur dengan job description (deskripsi kerja) yang melekat pada bagian-bagian struktur institusi pendidikan.
Adanya job description dimaksudkan untuk membagi tugas dari mulai manager tertinggi hingga personil di bawahnya dan wewenang dari manager yang membawahi unit-unit organisasi dalam struktur institusi pendidikan. Pada bagian organizing atau pengorganisasian ini juga dapat dimaknai sebagai upaya melakukan koordinasi sumber daya manusia (tenaga pendidik dan administrasi pendidikan) dengan ditunjang sarana dan prasarana yang ada. Dalam bagian organizing ini pula,satu hal yang penting adalah penempatan orang yang tepat di tempat yang tepat (the right man on the right place).

3. Penggerakkan atau pelaksanaan kegiatan dalam Institusi Pendidikan
Penggerakkan atau pelaksanaan kegiatan merupakan realisasi perencanaan dan ditangani oleh orang-orang yang terlibat dalam organisasi penyelenggara atau institusi pendidikan. Tentunya dengan memperhatikan panduan atau kriteria tertentu yang telah ditetapkan dalam perencanaan. Penggerakkan dalam organisasi sebagai upaya memimpin, mengembangkan dan memberi kompensasi-dalam pandangan penulis-meliputi :
(1) Adanya pemberian motivasi dari manager atau penanggungjawab aktivitas manajemen kepada personil yang ada dalam unit-unit organisasi.
(2) Adanya pengarahan dari manager kepada personil untuk dapat melakukan hal-hal terkait dengan tugas yang benar (do the right things) dan melakukan hal-hal terkait tugas dengan benar (do things right).
(3) Adanya perlakuan secara manusiawi kepada personil dengan tetap mempertimbangkan reward dan punishment dalam rangka keberlangsungan organisasi.
4. Pengawasan dalam Institusi Pendidikan
Pengawasan dalam pendidikan dimaksudkan untuk menjaga agar penyelenggaraan pendidikan dilaksanakan sesuai dengan yang direncanakan dan semua sumber-sumber yang ada (sumber daya manusia maupun sarana serta pra sarana) dapat berdaya guna atau digerakkan untuk mengarah pada pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.
Pada dasarnya dalam pengawasan ini, menurut penulis, dilakukan evaluasi atas sumber daya manusia yang ada dalam institusi pendidikan dengan indikator kinerja tertentu. Indikator-indikator ini termaktub dalam kerangka acuan (term of reference) yang sudah dipersiapkan sebagai dasar pengevaluasian.
Dalam pengawasan ini juga dilakukan penilaian atas pemanfaatan sarana dan prasaran yang ada, apakah sudah memadai atau belum atau sudah dapat dipergunakan dengan tepat atau tidak, dalam rangka pendukung kegiatan bimbingan, pengajaran dan latihan yang dilaksanakan tenaga pendidik kepada peserta didik. Termasuk juga dalam evaluasi ini adalah penilaian atas anggaran yang digunakan dalam pelaksanaan institusi pendidikan.

III. Kesimpulan

Berdasarkan uraian dalam pembahasan tersebut di atas , maka penulis menyimpukan bahwa aspek ontologis atau ” apa yang dikaji ” manajemen pendidikan meliputi :
1. Perencanaan dalam institusi Pendidikan Manajemen pendidikan sebagai suatu disiplin ilmu mengkaji tentang bagaimana merencanakan atau melakukan proyeksi untuk memanfaatkan sumber daya manusia (SDM) dan sumber daya pendukung di dalam institusi pendidikan untuk mencapai tujuan tertentu dari institusi pendidikan tersebut secara efektif dan efisien.
2. Pengorganisasian Institusi Pendidikan Dalam konteks pengorganisasian institusi pendidikan, manajemen pendidikan mengkaji soal berbagai hal terkait dengan pembagian tugas dan wewenang dalam struktur organisasi, dalam hal ini institusi pendidikan.
3. Penggerakkan Institusi Pendidikan Dalam hal ini, manajemen pendidikan mengkaji soal-soal kepemimpinan dalam menggerakkan organisasi pendidikan, termasuk di dalamnya adalah soal motivasi dan pengarahan.
4. Pengawasan dalam Institusi Pendidikan Sebagai bagian dalam proses manajemen, pengawasan merupakan salah satu bagian kajian manajemen pendidikan. Hal ini meliputi kajian pengawasan (supervisi) dan evaluasi dalam institusi pendidikan.

Referensi :

Fattah, Nanang, Landasan Manajemen Pendidikan, Rosda Karya, Bandung,2000
Mudyaharjo, Redja, Filsafat Ilmu Pendidikan : Suatu Pengantar , Rosda Karya, Bandung , 2002
Pidarta, Made, Manajemen Pendidikan Indonesia , Rineka Cipta Jakarta, 2004
Suriasumantri Jujun S., Filsafat Ilmu : Sebuah Pengantar Populer, Sinar Harapan, Jakarta, 2007
Terry ,George R., Prinsip-Prinsip Manajemen (terj.), Bumi Aksara, Jakarta, 2005

Pengertian Obesitas
Obesitas atau yang biasa disebut kegemukan adalah suatu keadaan di mana terjadi penumpukan lemak yang berlebihan sehingga berat badan seseorang jauh di atas normal dan membahayakan kesehatan.
Definisi obesitas menurut para dokter:
• Suatu kondisi dimana lemak tubuh berada dalam jumlah yang berlebihan
• Suatu penyakit kronik yang dapat diobati
• Suatu penyakit epidemik
• Suatu kondisi yang berhubungan dengan penyakit-penyakit lain dan dapat menurunkan kualitas hidup
Penyebab Obesitas
1. Faktor makan yang melebihi kebutuhan tubuh.
Bagi yang mempunyai kebiasaan makan yang berlebih / ngemil mungkin harus berhati-hati, karena kebiasaan itu bisa menyebabkan kegemukan. Apalagi kalau makanan yang dikonsumsi banyak mengandung kolesterol. Demikian juga kebiasaan ngemil di waktu malam.
2. Kurang menggunakan energi.
Pekerjaan yang dilakukan sehari-hari juga dapat mempengaruhi gaya hidup seseorang, Dalam hal ini, aktifitas fisik sangat diperlukan untuk membakar kalori didalam tubuh. Bila pemasukan kalori berlebihan dan tidak diimbangi dengan aktifitas fisik dapat menyebabkan tubuh jadi gemuk. Disarankan untuk melakukan kegiatan olah raga agar lemak tidak menumpuk.
Meningkatkan aktifitas fisik, sangat baik bagi penderita obesitas. Manfaat aktifitas fisik diantaranya adalah:
1. Meningkatkan aktifitas fisik secara umum dapat menurukan tekanan darah, mengontrol diabetes, menurunkan kadar kolesterol, dan mengurangi komplikasi kesehatan lainnya yang berhubungan dengan kelebihan BB.
2. Orang yang latihan secara teratur umumnya lebih berhasil menurunkan BB dan mempertahankan nya dibandingkan dengan orang yang tidak berlatih secara teratur.
3. Dari hasil penelitian dilaporkan bahwa orang yang berolah raga memiliki perasaan lebih bahagia.
3. Faktor Keturunan
Faktor keturunan dapat mempengaruhi terjadinya kegemukan. Pengaruhnya sendiri sebenarnya belum jelas, tetapi memang ada bukti yang mendukung fakta bahwa keturunan merupakan faktor penguat terjadinya kegemukan. Dari hasil penelitian gizi di Amerika Serikat, dilaporkan bahwa anak-anak dari orang tua normal mempunyai 10% peluang menjadi gemuk. Peluang itu akan bertambah menjadi 40-50% bila salah satu orang tua menderita obesitas dan akan meningkat menjadi 70-80% bila kedua orang tua menderita obesitas. Oleh karena itu, bayi yang lahir dari orang tua yang obesitas akan mempunyai kecenderungan menjadi gemuk.
4. Faktor Hormonal
Pada perempuan yang sedang mengalami menopause dapat terjadi penurunan fungsi hormon thyroid. Kemampuan untuk menggunakan energi akan berkurang dengan menurunnya fungsi hormon ini. Hal tersebut terlihat dengan menurunnya metabolisme tubuh sehingga menyebabkan kegemukan.
5. Faktor kecepatan metabolisme basal yang rendah
Hal ini disebabkan energi yang dikonsumsi lebih lambat untuk dipecah menjadi glikogen sehingga akan lebih banyak lemak yang disimpan di dalam tubuh. Penderita obesitas yang mempunyai metabolisme basal yang rendah, apabila tidak melakukan olah raga dan diet yang benar mempunyai kecenderungan bertambah gemuk, karena semakin membesarnya otot akan menyebabkannya mudah lapar.
Resiko Obesitas
Obesitas atau kegemukan merupakan faktor utama untuk sejumlah penyakit kronis, mencakup kencing manis, kanker dan penyakit cardiovasculer. Kerentanan akan semakin menjadi seiring dengan bertambahnya berat badan. Lebih banyak pendeirta obesitas yang terserang penyakit ini berujung pada kematian dari pada penderita lain yang tidak mengalami obesitas.

Peran Sekolah

Tidak dipugkiri bahwa obesitas tidak hanya terjadi pada orang dewasa ataupun orang tua, tetapi juga pada anak-anak usia sekolah. Kita sering melihat anak-anak SD yang badannya melar dan kegemukan. Kita terkadang kasihan melihat bahwa anak itu begitu lambat dalam bergerak. Apalagi kalau ia harus membawa tas dan peralatan –peralatan sekolah yang lain. Belum lagi ia mendapat tekanan psikis karena olok-olokan teman-temannya. Lalu, apa peranan sekolah dalam membantu anak-anak yang mengalami obesitas? Berikut ini tip yang bisa dilakukan oleh sekolah untuk membantu anak-anak yang mengalami obesitas.
1. Meyakinkan pada anak bahwa ia harus selalu percaya diri dengan keadaan tersebut. Tindakan ini penting, karena anak obesitas cenderung merasa rendah diri dan canggung dalam pergaulan. Semakin dia menyendiri, maka semakin sering dia banyak mengkonsumsi makanan. Guru BP dan wali kelas mempunyai peran besar dalam hal menumbuhkan rasa percaya diri anak.
2. Mengadakan pendekatan persuasif, terutama tentang pola makan. Berikan pengertian tentang banyaknya makanan ideal yang harus konsumsi. Tekankan bahwa ia harus mengatakan ‘tidak’ pada porsi makanan yang berlebihan. Juga tekankan untuk menghindari kebiasaan ‘ngemil’ pada saat rehat. Misalnya, saat belajar di rumah, menonton televisi, ngobrol bersama teman, dll.
3. Menekankan pentingnya berolah raga. Di sekolah, guru olah raga dapat membantu anak yang mengalami obesitas dengan cara;
1. Tidak membiarkan anak yang obesitas pasif sewaktu pelajaran olah raga berlangsung.
2. Memberi porsi olah raga yang lebih banyak dibanding dengan anak yang lain (tentu saja dengan bentuk-bentuk kegiatan yang proporsional sesuai dengan kondisinya dan tidak hanya sewaktu pelajaran olah raga berlangsung).
3. Memberi tugas tambahan berupa laporan tentang kegiatan olah raga di rumah (push up, sit up, basket, bermain bola, joging, bersepeda, dll).
4. Menjalin hubungan yang harmonis antara anak obesitas dengan guru olah raga sehingga timbul kecintaan anak untuk berolah raga.

4. Menjalin kerjasama dengan orang tua murid, sehingga orang tua murid mudah diajak kerja sama terhadap anaknya yang obesitas, misalnya selalu memberikan laporan tentang aktivitas anaknya di rumah; baik makannya maupun olah raganya.
5. Pihak sekolah bisa mencarikan ’teman pendamping sebaya’ bagi anak obesitas. Teman pendamping sebaya adalah teman yang yang sebaya (seumur, setingkat) yang bisa menjalin keakraban dan mempengaruhi. Teman pendamping sebaya ini diusahakan yang badannya ramping dan enerjik, sehingga si penderita obesitas mempunyai obsesi untuk menjadi seperti teman pendamping sebayanya

Referensi

1. Judul : Kegemukan dan Obesitas
Alamat : http://www.ukhuwah.or.id/dr/?q=node/44
Penulis : dr. Genis Ginanjar Wahyu

2. Judul : Obesitas dan Faktor Penyebab
Alamat : http://www.e-psikologi.com/remaja/130502.htm
Penulis : Zainun Mu’tadin, SPsi., MSi.

3. Judul : Faktor Penyebab Obesitas
Alamat : http://my-babyblue.blogspot.com/2006/12/faktor-penyebab-
obesitas.html
Penulis : Echy iMoeTh

4. Judul : Info: Obesitas Rentan Penyakit Mematikan
Alamat : Shttp://suryadhie.blogspot.com/2007/08/info-obesitas-rentan-
penyakit-mematikan.htmluryadi
Penulis : Suryadi

5. Judul : Obesity
Alamat : http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/obesity.html
Penulis : National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases

Abstrak

Hidup dalam era informasi di abad 21 ini merupakan kenyataan. Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan era global saat ini. Untuk mendorong kesiapan SDM di era global melalui pendidikan di sekolah, pengintegrasian TIK ke dalam proses pembelajaran perlu dilakukan untuk 1) mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa; 2) mengembangkan keterampilan dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi (ICT literacy) itu sendiri; dan 3) untuk meningkatkan efektifitas, efisiensi dan kemenarikan proses pembelajaran. Dalam prakteknya, belum semua guru memahami apa yang dimaksud dengan mengintegrasikan TIK ke dalam proses pembelajaran. Makalah ini memaparkan tentang apa, mengapa dan bagaimana integrasi TIK dilakukan dalam proses pembelajaran di sekolah.

“In a global economy, it is education, not location, that determines the standard of living.”
-Albert Hoser, CEO of Siemens- http://www.wtvi.com/teks/tia
“Technology is a tool. A Means to end. Not the end in itself.”
http://www.wtvi.com/teks/integrate/tcea2001/powerpointoutline.pdf
Pendahuluan
Dunia telah berubah. Dewasa ini kita hidup dalam era informasi/global. Dalam era informasi, kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi telah memungkinkan terjadinya pertukaran informasi yang cepat tanpa terhambat oleh batas ruang dan waktu (Dryden & Voss, 1999). Berbeda dengan era agraris dan industri, kemajuan suatu bangsa dalam era informasi sangat tergantung pada kemampuan masyarakatnya dalam memanfaatkan pengetahuan untuk meningkatkan produktifitas. Karakteristik masyarakat seperti ini dikenal dengan istilah masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge-based society). Siapa yang menguasai pengetahuan maka ia akan mampu bersaing dalam era global.
Oleh karena itu, setiap negara berlomba untuk mengintegrasikan TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK) untuk semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegaranya untuk membangun dan membudayakan masyarakat berbasis pengetahuan agar dapat bersaing dalam era global. Apa akibatnya? Negara yang telah maju dan mampu mengintegrasikan teknologi tersebut secara sistemik/holistik, melompat berkali lipat jauh lebih maju. Beberapa contoh yang telah maju dan jauh meninggalkan diantaranya adalah Singapura, Jepang dan Korea. Sementara itu, negara-negara berkembang lain yang belum mampu mengintegrasikan teknologi tersebut secara komprehensif semakin berkali lipat jauh tertinggal. Kondisi seperti ini dinamakan kesenjangan digital (digital divide).
Indonesia, perlu segera mengurangi kesenjangan digital ini dengan mengintegrasikan TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK) secara sistemik untuk semua sektor pemerintahan seperti perdagangan/bisnis, administrasi publik, pertahanan dan keamanan, kesehatan dan termasuk pendidikan. Dalam makalah ini, penulis ingin mengupas masalah pengintegrasian TIK dalam pendidikan. Tapi, penulis membatasi pembahasan hanya pada masalah yang lebih mikro, yaitu pengintegrasian TIK dalam lingkup pembelajaran (ruang kelas). Sementara itu, yang dimaksud dengan teknologi informasi dan komunikasi disini meliputi teknologi cetak maupun non-cetak (seperti teknologi audio, audio-visual, multimedia, internet dan pembelajaran berbasis web).
Beberapa permasalahan yang penulis ingin coba dibahas dalam makalah ini meliputi: 1) apa yang dimaksud dengan pengintegrasian TIK ke dalam proses pembelajaran? 2) seperti apakah contoh bentuk pengintegrasian TIK ke dalam proses pembelajaran?; 3) mengapa TIK perlu diintegrasikan dalam pembelajaran?; 4) pendekatan seperti apa yang dapat digunakan dalam mengintegrasikan TIK ke dalam proses pembelajaran?; dan 5) pertimbangan apa sajakah yang perlu dilakukan dalam mengintegrasikan TIK ke dalam proses pembelajaran?
Apa yang Dimaksud dengan Mengintegrasikan TIK ke dalam proses pembelajaran?
Mari kita bandingkan dua kalimat berikut! ”Learning to Use ICTs vs Using ICTs to Learn”. Secara sederhana, mengintegrasikan TIK ke dalam proses pembelajaran sama maknanya dengan menggunakan TIK untuk belajar (using ICTs to learn) sebagai lawan dari belajar menggunakan TIK (learning to use ICTs). Belajar menggunakan TIK mengandung makna bahwa TIK masih dijadikan sebagai obyek belajar atau mata pelajaran.
Sebenarnya, UNESCO mengklasifikasikan tahap penggunaan TIK dalam pembelajaran ke dalam empat tahap sebagai beirkut:

Tahap emerging, baru menyadari akan pentingnya TIK untuk pembelajaran dan belum berupaya untuk menerapkannya. Tahap applying, satu langkah lebih maju dimana TIK telah dijadikan sebagai obyek untuk dipelajari (mata pelajaran). Pada tahap integrating, TIK telah diintegrasikan ke dalam kurikulum (pembelajaran). Tahap transforming merupakan tahap yang paling ideal dimana TIK telah menjadi katalis bagi perubahan/evolusi pendidikan. TIK diaplikasikan secara penuh baik untuk proses pembelajaran (instructional purpose) maupun untuk administrasi (administrational purpose).
Apa yang terjadi dalam praktek pembelajaran di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, TIK masih dijadikan sebagai obyek atau mata pelajaran. Sebagian besar, TIK masih dijadikan sebagai obyek belajar atau mata pelajaran di sekolah-sekolah. Bahkan di tingkat perguruan tinggi atau akademi, banyak dibuka program studi yang berkaitan dengan TIK, seperti teknik informatika, manajemen informatika, teknik komputer, dan lain-lain.
Secara ideal, kondisi yangs seharusnya terjadi adalah TIK sudah diintegrasikan dalam proses pembelajaran. Sebagai contoh, mari kita perhatikan salah satu bentuk pengintegrasian TIK ke dalam proses pembelajaran yang ditunjukkan dalam oleh suatu rencana pembelajaran (lesson plan) yang pernah dibuat oleh beberapa guru SMA sebagai berikut:
Tabel 1:
Contoh Rencana Pembelajaran yang Mengintegrasikan TIK

No. Topics Grade
Level Objectives Instructional Activities and ICT Used
01. The Creation of Universe 1st Students will be able:
– to describe the theories of universe creation
– to compare theories of universe creation among each other – students watch video shows (VCD) of the universe creation
– given a book of universe creation, students (in group) analyze the differences among theories of universe creation
– each group write their report using word processor application (e.g. MS Word).
– each group present and discuss their works in front of class.
02. Square Equation 1st – to determine the root of square equation using factor and abc’ formula (rules)
– to use discriminant to solve the square equation problems – student studying the equation of square from CD-ROM
– teacher discussing them and explain how to use the rule of square equation more deeply using MS Powerpoint
– students solving problems given by teacher
– as a follow up, students assign to solve the problems related to the square equation and write the equation using equation facilities on MS Word
– students submit their homework via e-mail to the teacher
06. Narrative Monolog Discourse : “Aspect of Love” 1st – to write a monologue discourses related to the theme of “Aspect of Love” in the form of poetry. – students choose a project related to the theme of “Love” from http://www.iearn.org
– students studying the project description and procedures the choosen
– students write their own poetry related to the theme of “Love” according to the project procedure suggested using MS Word or MS Power Point.
– Students send their poetry to the teacher and their friends in the world through mailing list (group) on http://www.iearn.org to have some comments or feedback.

Rencana pembelajaran di atas menunjukkan secara jelas bahwa melalui pengintegrasian TIK ke dalam proses pembelajaran, disamping tujuan pembelajaran tercapai ada suatu agenda terselubung (hidden agenda) penting yang dapat dicapai pula, yaitu ICTs Literacy, seperti siswa dapat melakukan browsing informasi melalui internet, berkomunikasi melalui e-mail, membuat laporan dengan aplikasi pengolah kata (MSWord), atau mempresentasikan sesuatu dengan MSPowerpoint. Inilah yang dimaksud dengan mengintegrasikan TIK ke dalam proses pembelajaran. Fryer (2001) mengatakan bahwa penggunaan TIK dalam pembelajaran bertujuan untuk melatih keterampilan menggunakan TIK dengan cara mengintegrasikannya ke dalam aktifitas pembelajaran, bukan mengajarkan TIK tersebut sebagai mata pelajaran yang terpisah. Jadi, sudah saatnya TIK diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran dan bukan hanya sekedar menjadi mata pelajaran yang terpisah.
Mengapa Pengintegrasian TIK ke dalam Proses Pembelajaran Penting?
Jawabannya sangat berkaitan erat dengan mempersiapkan sumber daya manusia Indonesia untuk siap memasuki era masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge-based society). Tahun 2020 Indonesia akan memasuki era perdagangan bebas (AFTA). Pada masa itu, masyarakat Indonesia harus memiliki ICT literacy yang mumpuni dan kemampuan menggunakannya untuk meningkatkan produktifitas (knowledge-based society). pengintegrasian TIK ke dalam proses pembelajaran dapat meningkatkan ICT literacy, membangun karakteristik masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge-based society) pada diri siswa, disamping dapat meningkatkan efektifitas dan efisiensi proses pembelajaran itu sendiri.
UNESCO (2002) menyatakan bahwa pengintegrasian TIK ke dalam proses pembelajaran memiliki tiga tujuan utama: 1) untuk membangun ”knowledge-based society habits” seperti kemampuan memecahkan masalah (problem solving), kemampuan berkomunikasi, kemampuan mencari, mengoleh/mengelola informasi, mengubahnya menjadi pengetahuan baru dan mengkomunikasikannya kepada oranglain; 2) untuk mengembangkan keterampilan menggunakan TIK (ICT literacy); dan 3) untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi proses pembelajaran.
Mengapa demikian? Karena secara teoretis TIK memainkan peran yang sangat luar biasa untuk mendukung terjadinya proses belajar yang:
Active; memungkinkan siswa dapat terlibat aktif oleh adanya proses belajar yang menarik dan bermakna.
Constructive; memungkinkan siswa dapat menggabungkan ide-ide baru kedalam pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya untuk memahami makna atau keinginan tahuan dan keraguan yang selama ini ada dalam benaknya.
Collaborative; memungkinkan siswa dalam suatu kelompok atau komunitas yang saling bekerjasama, berbagi ide, saran atau pengalaman, menasehati dan memberi masukan untuk sesama anggota kelompoknya.
Intentional; memungkinkan siswa dapat secara aktif dan antusias berusaha untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Conversational; memungkinkan proses belajar secara inherent merupakan suatu proses sosial dan dialogis dimana siswa memperoleh keuntungan dari proses komunikasi tersebut baik di dalam maupun luar sekolah.
Contextualized; memungkinkan situasi belajar diarahkan pada proses belajar yang bermakna (real-world) melalui pendekatan ”problem-based atau case-based learning”
Reflective; memungkinkan siswa dapat menyadari apa yang telah ia pelajari serta merenungkan apa yang telah dipelajarinya sebagai bagian dari proses belajar itu sendiri. (Jonassen (1995), dikutip oleh Norton et al (2001)).
Dengan kata lain, TIK memungkinkan pembelajaran dapat disampaikan untuk berbagai modalitas belajar (multisensory), baik audio, visual, maupun kinestetik (dePorter et al, 2000). TIK memungkinkan pembelajaran disampaikan secara interaktif dan simulatif sehingga memungkinkan siswa belajar secara aktif. TIK juga memungkinkan untuk melatih kemampuan berpikir tingkat tinggi (seperti problem solving, pengambilan keputusan, dll.) serta secara tidak langsung meningkatkan ”ICT literacy” (Fryer, 2001).
Dari rencana pembelajaran di atas terlihat jelas bahwa melalui mata pelajaran Fisika, Biologi atau Bahasa Inggris misalnya, secara tidak langsung ICT literacy siswa berkembang. Disamping itu, dengan metode pembelajaran yang lebih bersifat konstruktif (contructivisme) secara tidak langsung keterampilan berpikir tingkat tinggi (seperti berpikir kritis, problem solving, dll.) dan keterampilan berkomunikasi dengan TIK pada diri siswa juga meningkat. Dengan kata lain, pengintegrasian TIK ke dalam proses pembelajaran dapat membangun karakteristik masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge-based society) pada diri siswa. Jika pengintegrasian TIK ke dalam proses pembelajaran dilakukan sejak saat ini, maka siswa-siswi tahun 2005 misalnya, akan siap menjadi bagian dari masyarakat global pada masa diberlakukannya AFTA tahun 2020 mendatang. Penulis merasa bahwa pengintegrasian TIK ke dalam proses pembelajaran merupakan masalah yang ”urgent” untuk mempersiapkan sumber daya manusia berbasis pengetahuan (knowledge-based human resources) yang sangat diperlukan di abad ke-21 ini.
Tidaklah heran kalau seorang futurolog, Eric Ashby (1972) seperti dikutip oleh Miarso (2004) menyatakan bahwa perkembangan TIK yang semakin mutakhir saat ini telah membawa revolusi pendidikan yang keempat. Revolusi pertama terjadi ketika orang menyerahkan pendidikan anaknya kepada seorang guru. Revolusi kedua terjadi ketika diguanakannya tulisan untuk keperluan pembelajaran. Revolusi ketiga terjadi seiring dengan ditemukannya mesin cetak sehingga materi pembelajaran dapat disajikan melalui media cetak. Revolusi keempat terjadi ketika digunakannya perangkat elektronik seperti radio, televisi komputer dan internet untuk pemerataan dan perluasan pendidikan.
Bagaimana Mengintegrasikan TIK ke dalam Proses Pembelajaran?
Dari sisi pendekatan, Fryer (2001) menyarankan dua pendekatan yang dapat dilakukan guru ketika merencanakan pembelajaran yang mengintegrasikan TIK, yaitu: 1) pendekatan topik (theme-centered approach); dan 2) pendekatan software (software-centered approach).
Pendekatan Topik (Theme-Centered Approach); Pada pendekatan ini, topik atau satuan pembelajaran dijadikan sebagai acuan. Secara sederhana langkah yang dilakukan adalah: 1) menentukan topik; 2) menentukan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai; dan 3) menentukan aktifitas pembelajaran dan software (seperti modul. LKS, program audio, VCD/DVD, CD-ROM, bahan belajar on-line di internet, dll) yang relevan untuk mencapai tujuan pembelajaran tersebut. Rencana pembelajaran yang dicontohkan di atas merupakan salah satu contoh penggunaan pendekatan ini.
Pendekatan Software (Software-centered Approach); menganut langkah yang sebaliknya. Langkah pertama dimulai dengan mengidentifikasi software (seperti bku, modul, LKS, program audio, VCD/DVD, CD-ROM, bahan belajar on-line di internet, dll) yang ada atau dimiliki terlebih dahulu. Kemudian menyesuaikan dengan topik dan tujuan pembelajaran yang relevan dengan software yang ada tersebut. Sebagai contoh, karena di sekolah hanya ada beberapa VCD atau mungkin CD-ROM tertentu yang relevan untuk suatu topik tertentu, maka guru merencanakan pengintegrasian software tersebut untuk mengajar hanya topik tertentu tersebut. Topik yang lainnya terpaksa dilaksanakan dengan cara konvensional.
Sedangkan dari sisi strategi pembelajaran, ada beberapa pendekatan yang disarankan untuk membangun keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa, diantaranya adalah: 1) resource-based learning; 2) case-based learning; 3) problem-based learning; 4) simulation-based learning; dan 5) collaborative-based learning (http://www.microlessons.com).
Resources-based learning memiliki karakteristik dimana siswa diberikan/disediakan berbagai ragam dan jenis bahan belajar baik cetak (buku, modul, LKS, dll) maupun non cetak (CD/DVD, CD-ROM, bahan belajar online) atau sumber belajar lain (orang, alat, dll) yang relevan untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Kemudain siswa diberikan tugas untuk melakukan aktifitas belajar tertentu dimana semua sumber belajar yang mereka butuhkan telah disediakan. Sebagai contoh, tujuan pembelajaran yang ingin dicapai adalah siswa dapat membandingkan beberapa teori penciptaan alam semesta. Untuk dapat mencapai tujuan pembelajaran tersebut, guru telah mengidentifikasi dan menyiapkan berbagai bentuk dan jenis sumber belajar yang berisi informasi tentang teori penciptaan alam semesta berupa buku, VCD, CD-ROM, alamat situs di internet dan mungkin seorang narasumber ahli astronomi yang diundang khusus ke kelas. Kemudian siswa ditugaskan untuk mencari minimal dua teori tentang penciptaan alam semesta secara individu atau kelompok baik dari buku, VCD, maupun internet sesuai dengan seleranya. Siswa juga diminta untuk menganalisis perbedaan dari berbagai segi tentang teori-teori tersebut dan membuat laporannya dalam MSWord yang kemudian dikirim ke guru dan teman lainnya melalui e-mail.
Case-based learning memiliki karakteristik dimana siswa diberikan suatu permasalahan terstruktur untuk dipecahkan. Dengan case-based learning solusi pemecahan masalahnya sudah tertentu karena skenario sudah dibuat dengan jelas. Tapi, dalam problem-based learning kemungkinan solusi pemecahan masalahnya akan berbeda. Misal, dua orang siswa diberikan satu permasalahan dengan pendekatan problem-based learning. Maka solusi yang diberikan oleh siswa yang satu dengan siswa yang lain mungkin berbeda.
Simulation-based learning memiliki karakteristik dimana siswa diminta untuk mengalami suatu peristiwa yang sedang dipelajarinya. Sebagai contoh, siswa diharapkan dapat membedakan perubahan percampuran warna-warna dasar. Maka, melalui suatu software tertentu (misal virtual lab) siswa dapat melakukan berbagai percampuran warna dan melihat perubahan-perubahannya. Dan ia dapat mencatat laporannya dalam bentuk tabel dengan menggunakan MSExcell atau MSWord. Atau kalau perlu mempresentasikan hasilnya dengan menggunakan MSPowerpoint.
Colaborative-based learning memiliki karakteristik dimana siswa dibagi kedalam beberapa kelompok, melakukan tugas yang berbeda untuk menghasilkan satu tujuan yang sama. Sebagai contoh, untuk mencapai tujuan pembelajaran dimana siswa dapat membedakan beberapa teori penciptaan alam semesta, siswa dibagi ke dalam tiga kelompok. Masing-masing kelompok ditugas kan mencari satu teori penciptaan alam semesta. Kemudian ketiga kelompok tersebut berkumpul kembali untuk mendiskusikan perbedaan teori tersebut dari berbagai segi dan membuat laporannya secara kolektif. Salah seorang siswa dapat ditunjuk untuk menyajikan hasilnya.
Beberapa Pertimbangan yang Perlu Diperhatikan dalam Mengintegrasikan TIK ke dalam proses pembelajaran
Ada beberapa hambatan yang perlu digaris bawahi berkaitan dengan pemanfaatan TIK untuk pembelajaran. Hambatan-hambatan tersebut diantaranya adalah: 1) penolakan/keengganan untuk berubah (resistancy to change) khususnya dari policy maker (kepala sekolah dan guru); 2) kesiapan SDM (ICT literacy dan kompetensi guru); 3) ketersedian fasilitas TIK; 4) ketersediaan bahan belajar berbasis aneka sumber; dan 5) keberlangsungan (sustainability) karena keterbatasan dana.
Penolakan atau keengganan untuk berubah, khususnya dari para pembuat kebijakan sekolah dan guru merupakan hal yang wajar mengingat TIK masih dapat dikatakan sebagai suatu inovasi (hal baru). Sikap para pengambil kebijakan atau guru terhadap TIK sebagian besar masih rendah disebabkan karena kurangnya pengetahuan terhadap TIK dan peran pentingnya bagi pembelajaran. Disamping itu, sikap keengganan/penolakan inipun didukung oleh karena redahnya melek teknologi (ICT literacy). Sehingga, kesiapan guru dan komptensi guru untuk memanfaatkan TIK dalam pembelajaran menjadi lemah. Walhasil, fasilitas TIK di sekolahpun menjadi terbatas sehingga keberlangsungan pemanfaatan TIK di sekolah juga masih dipertanyakan. Terlebih-lebih, ketersediaan bahan belajar berbasis aneka sumber (resources-based learning packages), seperti modul, buku paket, VCD pembelajaran, CD-ROM pembelajaran, maupun bahan belajar online masih terbatas.
Sebagai sumbang saran, dalam rangka mengintegrasikan TIK ke dalam proses pembelajaran (kelas), penulis merekomendasikan beberapa hal berikut untuk dipecahkan secara sistemik dan simultan:

Dukungan Kebijakan; sekolah mengeluarkan kebijakan untuk mengedepankan pengintegrasian TIK untuk pembelajaran. Misalnya melalui pencananagan visi, misi, peraturan dan rencana induk/rencana strategis sekolah ke depan.
e-Leadership; Kepala sekolah dan atau beberapa guru panutan di sekolah menyadari penuh pentingnya peran TIK untuk pembelajaran dan berupaya untuk terus mempelajari dan menerapkannya di sekolah.
Penyiapan SDM; sekolah mengembangkan ICT literacy para guru dan kompetensi guru dalam mengintegrasikan TIK kedalam pembelajaran (termasuk berbagai strategi/metode pembelajaran yang efektif). Bila perlu guru mengadopsi atau mengadaptasi strategi pembelajaran yang telah terbukti efektif dan mengkomunikasikannya dengan kolega. Bila perlu mengembangkan sendiri. Hal ini dpat dilakukan melalui pelatihan, pengiriman mengikuti loka karya atau seminar, terlibat aktif dalam komunitas jaringan sekolah dan lain-lain. Disamping itu, sekolah juga harus menyiapkan tenaga teknis dalam bidang TIK untuk pembelajaran.
Penyiapan fasilitas; sekolah menyiapkan fasilitas yang kondusif agar terjadinya belajar berbasis aneka sumber dengan menyiapkan beberapa fasilitas seperti perpustakaan (cetak dan non-cetak), komputer yang terhubung dengan LAN, koneksi internet, VCD/DVD player plus televisi, serta komposisi ruang kelas.
Penyediaan software pembelajaran; penyediaan software pembelajaran seperti buku, modul, LKS, program audio cassette, VCD/DVD, CD-ROM interaktif, dan lain-lain dapat dilakukan dengan cara membeli produk yang telah ada di pasar atau memproduksi sendiri.
Penyiapan tenaga teknis; fasilitas TIK yang ada di sekolah hendaknya didukung oleh beberapa tenaga teknis yang memiliki keahlian atau keterampilan dalam mengelola dan memlihara peralatan tersebut.
Kesimpulan dan Harapan
Sebagai kesimpulan, akankah pengintegrasian TIK ke dalam proses pembelajaran dalam konteks kondisi Indonesia saat ini dapat berjalan dengan baik? Fakta nyata menunjukkan bahwa ada upaya secara sporadis dari beberapa sekolah-sekolah, baik sekoalh negeri maupun swasta di beberapa kota besar di Indonesia yang telah berupaya mengintegrasikan TIK ke dalam proses pembelajaran. Walaupun mungkin belum sempurna, tapi telah menunjukkan adanya perbedaan baik bagi hasil belajar maupun apresiasi siswa, orang tua maupun guru.
Contoh kecil tersebut, penting untuk dijadikan sebagai catatan. Ke depan, upaya beberapa sekolah yang secara sporadis ini perlu mendapat dukungan secara nasional sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu pendidikan. Oleh sebab itu, pemerintah diharapkan dapat mengakomodasi masalah penting ini dengan secara top-down mengeluarkan suatu kebijakan pemanfaatan TIK untuk pendidikan (e-education) yang disertai dengan dukungan infratsruktur teknologi informasi yang memadai. Akankah pendidikan Indonesia berjalan di tempat, sementara negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Fhilipina dan Thailand melesat jauh kedepan melalui visi e-education-nya yang jauh lebih terarah? MUDAH-MUDAHAN TIDAK!

Referensi:
Dryden, Gordon; dan Voss, Jeanette; (1999), ”the Learning Revolution: to Change the Way the World Learn”, the Learning Web, Torrence, USA, http://www.thelearningweb.net.
Fryer, Wesley A.; (2001), “Strategy for effective Elementary Technology Integration”, http://www.wtvi.com/teks/integrate/tcea2001/powerpointoutline.pdf
NIE, Singapore, “General Typology of Teaching Strategies in Integrated Learning System”, http://www.microlessons.com.
Norton, Priscilla; dan Spargue, Debra; (2001), “Technology for Teaching”, Allyn and Bacon, Boston, USA.
UNESCO Institute for Information Technologies in Education (2002), “Toward Policies for Integrating ICTs into Education” Hig-Level Seminar for Decision Makers and Policy-Makers, Moscow 2002.
Yusufhadi Miarso; (2004). ”Menyemai Benih Teknologi Pendidikan” Prenada Media, Jakarta.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!